
Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan
Dalam video berdurasi sekitar tiga menit yang beredar pada Rabu (20/5/2026) malam, Ken menyebut bahwa anggapan Nabi Muhammad buta huruf merupakan pemahaman yang menurutnya kurang tepat.
“Menganggap Nabi Muhammad buta huruf itu menurut saya suatu penghinaan. Masa seorang nabi, idola dan teladan umat Islam sedunia tidak bisa baca dan menulis,” ujar Ken dalam video tersebut.
Ia menjelaskan bahwa kata “ummi” dalam Al-Qur’an tidak selalu bermakna buta huruf, melainkan merujuk kepada penduduk asli Makkah pada masa itu. Menurutnya, istilah tersebut memiliki konteks sosial dan kebangsaan.
“Yang dimaksud ummi itu bukan buta huruf dalam artian Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis, tetapi membaca tanda-tanda alam dan kondisi masyarakat di sekitarnya,” katanya.
Ken juga menyinggung kondisi Kota Makkah pada masa jahiliah yang disebutnya dipenuhi praktik monopoli perdagangan dan ketidakadilan sosial oleh para penguasa.
Ia menilai, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad bukan sekadar perintah membaca secara tekstual, melainkan dorongan untuk memahami realitas sosial dan melakukan perubahan.
Menurut Ken, Nabi Muhammad merupakan sosok cerdas sejak kecil, aktif berdagang, dan dikenal sebagai pengusaha sebelum diangkat menjadi nabi.
Dalam penjelasannya, ia juga mengaitkan makna “ummi” dengan semangat nasionalisme dan kehidupan berbangsa saat ini.
Ken mencontohkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki rumah bersama bernama Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang harus dijaga melalui sikap kritis terhadap kondisi sosial.
“Mari kita kritis, mari bergerak sesuai kemampuan kita supaya pemerintah bisa memberikan keadilan dan kesejahteraan kepada masyarakat,” ucapnya.
Selain itu, Ken mengungkapkan bahwa perjuangan Nabi Muhammad selama 13 tahun di Makkah menghadapi tekanan dari elite penguasa saat itu hingga akhirnya hijrah ke Madinah. [Diori Parulian Ambarita]