AmbaritaNews.com | Kabupaten Bekasi - Ketua RT 005, Iwan Setiawan, mengungkapkan kisah panjang perjuangan warganya dalam membangun fasilitas sosial (fasos) berupa Kantor Sekretariat RT 005 sekaligus balai warga yang berlokasi di RW 009, Desa Sukadami, Kecamatan Cikarang Selatan. Pembangunan tersebut, kata dia, murni hasil swadaya masyarakat setelah bertahun-tahun proposal bantuan tak pernah mendapat respons dari pemerintah desa.
“Ini terkait pembangunan fasos, kantor sekretariat RT 005 dan balai warga Perumahan Wahana Cikarang. Dari dulu kita sodor-sodorin proposal ke desa, ke mana pun, nggak pernah ada hasilnya, buntu,” ujar Iwan Setiawan kepada wartawan, Rabu (7/1/2026).
Menurut Iwan, akhirnya warga RT 005 sepakat menggalang dana secara mandiri. Dana pembangunan diperoleh dari iuran bulanan warga serta akumulasi denda ronda malam. “Itu hasil dari iuran-iuran bulanan dan denda ronda. Mungkin baru sekitar 50 % yang bisa dipakai untuk pembangunan, tapi itu murni swadaya warga,” jelasnya.
Lebih jauh, Iwan menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari dinamika politik dan relasi kekuasaan di tingkat desa hingga kabupaten. Ia mengaku RT 005 di wilayah RW 009 sejak lama merasa dianaktirikan dan dipandang sebelah mata dalam hal pemerataan pembangunan.
“Ini juga ada kaitannya dengan Bupati Bekasi dan Kepala Desa Sukadami. Dari dahulu, RT 005 ini seperti dianaktirikan, nggak pernah benar-benar dipandang,” ungkapnya.
Iwan juga menyinggung bahwa pembangunan yang sempat masuk ke wilayahnya justru terjadi menjelang momentum Pilkada. Ia menyebut nama seorang anggota dewan, (NY) dari PDI Perjuangan, yang membawa proposal pembangunan tersebut. Namun, menurut Iwan, bantuan itu sarat kepentingan politik.
*“Waktu Pilkada kemarin, Dewan (NY) yang membawa proposal. Tapi ini jadi transaksi politik. Ada pembangunan, tapi imbal baliknya suara harus memilih beliau. Itu jelas transaksi politik,” tegasnya.*
Ia berharap persoalan ini dapat diketahui publik sebagai bentuk pembelajaran bersama. “Biar ini kita kemukakan ke khalayak umum, supaya orang-orang tahu. Di Desa Sukadami ini ada RT yang dianaktirikan, tapi sekarang justru mampu membangun sekretariat secara mandiri, swadaya masyarakat sendiri, tanpa bantuan desa,” katanya.
Iwan menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan sekretariat RT 005 menjadi bukti kemandirian dan solidaritas warga. “Ini membuktikan, dengan kebersamaan, kami bisa membangun tanpa harus bergantung pada bantuan yang sarat kepentingan,” pungkasnya. [Diori Parulian Ambarita]
