AmbaritaNews.com | Tangerang - Provinsi Tapanuli (Protap) sangat berpeluang jadi model "Provinsi Hijau (Green Province)" di Indonesia, dengan geotermal sebagai tulang punggung, peluang mewujudkan 100% Energi Hijau jika Provinsi Tapanuli terbentuk.
Protap berada di sekitar kaldera Toba (supervolcano terbesar di dunia pada era Quaternary, dengan erupsi terakhir ± 74.000 tahun lalu yang membentuk Danau Toba). Kaldera besar ini menciptakan sistem panas bumi aktif karena sisa panas magma, struktur geologi (sesar Sumatera, pull-apart basin), dan manifestasi permukaan seperti mata air panas (Sipoholon di Tapanuli Utara, Sigaol Simbolon di Samosir, dll.).
Potensi geotermal + hidro bisa jadi baseload (pasokan stabil 24 jam), sementara surya tambah di siang hari merupakan kombinasi ideal untuk suplai mandiri.
Jika protap terbentuk, otonomi lebih besar bisa prioritaskan investasi EBT (misalnya ekspansi Sarulla, PLTA Batang Toru, PLTS massal), tarik investor asing, dan diintegrasikan dengan pariwisata (green energy untuk resort Danau Toba).
Target nasional RUPTL PLN 2025–2034: menambah ribuan MW EBT di Sumatera (termasuk geotermal 2 GW+, hidro 4–5 GW+), yang banyak di kawasan Protap.
Rencana wilayah provinsi Tapanuli (meliputi wilayah seperti Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Toba, Samosir, Humbang Hasundutan, dan mungkin Sibolga atau sekitarnya.
Potensi Geotermal di Kawasan Calon Provinsi Tapanuli
Potensi secara nasional: Indonesia punya potensi panas bumi terbesar kedua di dunia (± 29.000 MW secara keseluruhan). Sumatera Utara sendiri punya potensi ± 2.750 MW (peringkat tinggi di Indonesia).
Di kawasan Tapanuli/Danau Toba: Ada beberapa Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) potensial, termasuk:
- Sarulla (Tapanuli Utara): Sudah beroperasi sejak 2018, kapasitas total 330 MW (3 unit). Ini adalah proyek PLTP terbesar di dunia dalam satu kontrak tunggal (mengalahkan beberapa proyek lain di efisiensi dan skala). Lokasi di Pahae Julu/Jae, dekat Gunung Sibual-buali.
- Sipoholon-Ria-ria (Tapanuli Utara): Manifestasi kuat, estimasi temperatur reservoir tinggi (hingga 265°C di Pusuk Buhit).
- Simbolon-Samosir (Samosir): WKP ditargetkan hingga 110 MW, rencana operasi sekitar 2024+ (meski perkembangan lambat).
- Area lain: Pusuk Buhit, sekitar Danau Toba, Batang Toru (dekat Humbang), dengan estimasi temperatur reservoir 235–265°C.
Total potensi di sekitar kaldera Toba bisa mencapai ratusan MW tambahan jika dieksplorasi penuh, karena kaldera besar berarti reservoir panas yang luas dan dalam.
Peluang jika Provinsi Tapanuli Terbentuk
Pembentukan provinsi baru bisa membuka peluang karena:
- Otonomi lebih besar: Provinsi bisa prioritaskan anggaran, regulasi, dan promosi investasi khusus untuk EBT (Energi Baru Terbarukan), termasuk geotermal. Saat ini, pengelolaan lintas kabupaten (Tapanuli Utara, Toba, Samosir) sering terhambat koordinasi dengan Pemprov Sumut.
- Pemerataan pembangunan: Provinsi baru bisa alokasikan dana khusus untuk eksplorasi baru (misalnya ekspansi Sarulla, pengembangan Sipoholon, atau WKP baru di Humbang/Toba), plus integrasi dengan pariwisata (geotourism) dan industri hijau.
- Daya tarik investasi: Dengan ibu kota potensial di Tarutung/Siborong-Borong (dekat area geotermal), pemerintah provinsi bisa jadi "motor" negosiasi dengan PLN, investor asing (seperti yang sudah di Sarulla: Medco, Inpex, Kyushu Electric, JBIC), dan Kementerian ESDM.
- Sinergi dengan Danau Toba: Geotermal bisa dukung target DPSP (Destinasi Pariwisata Super Prioritas) dengan energi bersih untuk hotel/resort, kurangi ketergantungan diesel, dan ciptakan "green energy hub" di sekitar danau.
Ada peluang besar untuk ekspansi geotermal signifikan (mungkin capai 500–1.000 MW+ total di provinsi jika semua WKP dikembangkan), dan bisa jadi salah satu klaster geotermal terbesar di Indonesia (bahkan dunia dalam hal skala proyek terintegrasi). Tapi keberhasilan tergantung kebijakan provinsi baru, dukungan pusat, dan keseimbangan dengan pelestarian Danau Toba sebagai Geopark UNESCO. Ini bisa jadi "bonus energi hijau" bagi provinsi baru, selain pariwisata dan pertanian. Jika ada update spesifik tentang rencana ESDM terkait provinsi ini, peluangnya semakin jelas!
Secara teori seluruh wilayah Provinsi Tapanuli jika terbentuk, mencakup 5 wilayah termasuk Sibolga bisa disuplai energi hijau 100% di masa depan, tapi tidak realistis dalam waktu dekat (misalnya 10–20 tahun ke depan) karena keterbatasan pengembangan saat ini, biaya, infrastruktur transmisi, dan kebutuhan listrik yang terus meningkat. Namun, provinsi baru ini punya potensi sangat tinggi untuk mencapai proporsi energi hijau yang dominan (bisa >80–90% jika dieksploitasi optimal), berkat kombinasi geotermal, hidro, dan surya yang melimpah.
Potensi Energi Hijau di Kawasan Calon Provinsi Tapanuli. Wilayah ini kaya akan sumber energi terbarukan karena letak geologis di sekitar kaldera Toba dan pegunungan Batak:
Total potensi energi hijau
- Panas bumi di Sumut ±2.000–2.762 MW, sebagian besar terkonsentrasi di kawasan Tapanuli.
- Hidro (PLTA/PLTM/Minihidro): ± 3.808 MW di Sumut, termasuk sungai-sungai besar di Tapanuli (Batang Toru, Aek Sibundong, dll.). Ada rencana PLTA Batang Toru 510 MW (COD direncanakan tahun 2026 ini, terbesar di Sumatera jika selesai), plus banyak mini/mikrohidro di pegunungan. Danau Toba sendiri punya potensi PLTA kecil atau run-of-river, meski terbatas karena status Geopark.
- Surya (PLTS): Potensi tinggi ± 11–12 GW di Sumut (karena sinar matahari melimpah di dataran tinggi). Bisa dikembangkan skala besar (ground-mounted) atau atap (rooftop) di kota-kota seperti Tarutung, Balige, Sibolga. Potensi hybrid geotermal-surya juga sudah dibahas di Sipoholon.
- Angin/Bayu: Potensi lebih kecil (± 356 MW di Sumut), tapi bisa dieksplorasi di bukit-bukit terbuka.
Total potensi energi hijau/terbarukan di Sumut (termasuk kawasan Tapanuli) mencapai >20.000 MW, jauh melebihi kebutuhan listrik saat ini.
Kebutuhan Listrik Saat Ini dan Estimasi untuk Provinsi Baru
- Kebutuhan listrik Sumut secara keseluruhan (2025–2026) sekitar ribuan MW (dengan rasio elektrifikasi ± 99,99%, tapi beban puncak meningkat karena industri, pariwisata, dan pertumbuhan penduduk).
- Kawasan Tapanuli (sekitar 40–50% wilayah Sumut) kemungkinan butuh 500–1.500 MW (tergantung skenario pertumbuhan ekonomi jika provinsi baru terbentuk dan pariwisata/geotermal berkembang pesat).
- Saat ini, suplai listrik di kawasan ini sudah didukung geotermal Sarulla (330 MW), PLTA Asahan, dan interkoneksi dari Medan/Pangkalan Brandan (yang masih campur fosil seperti gas dan batubara).
Contoh sukses: Islandia atau Selandia Baru capai >90% energi hijau berkat geotermal + hidro. [R. Erathus Tua, CMHA]
