AmbaritaNews.com | Kayuagung – Menjelang peringatan Hari Bhayangkara Ke-80 Tahun 2026, suasana kemeriahan dan berbagai kegiatan yang digelar jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di berbagai daerah diwarnai semangat mendekatkan diri kepada masyarakat. Namun, di tengah semarak peringatan tersebut, Polres Ogan Komering Ilir (OKI) justru menghadapi sejumlah catatan setelah muncul polemik mengenai penyaluran daging kurban pada Iduladha 1447 Hijriah beberapa waktu lalu.
Sejumlah pemberitaan media dan tanggapan publik memunculkan kritik terhadap pelaksanaan kegiatan sosial tersebut. Polemik bermula dari adanya warga yang mengaku tidak menerima pembagian daging kurban dari Polres OKI yang disebut hanya diperuntukkan bagi personel. Informasi itu kemudian memicu beragam tanggapan masyarakat yang mempertanyakan pelaksanaan kegiatan sosial dengan semangat pelayanan publik yang selama ini diusung melalui slogan "Polri untuk Masyarakat."
Di saat berbagai rangkaian Hari Bhayangkara mengangkat tema pengabdian dan kedekatan Polri dengan masyarakat, polemik tersebut menjadi perhatian tersendiri. Bagi sebagian masyarakat, peristiwa ini dinilai menjadi ironi karena muncul pada momentum ketika institusi kepolisian tengah memperkuat citra pelayanan dan kepercayaan publik.
Bagi sebagian masyarakat, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyaluran daging kurban, tetapi juga menyangkut konsistensi antara komitmen pelayanan kepada masyarakat dan implementasinya di lapangan. Persepsi publik terhadap suatu institusi dibangun melalui pengalaman masyarakat dalam menerima pelayanan, bukan semata-mata melalui slogan atau pesan yang disampaikan.
Di sisi lain, perhatian publik terhadap Polres OKI juga tertuju pada penanganan dugaan tindak pidana menembakan calon ketua kelompok tani Indonesia Merdeka saat menghadiri musyawarah seketen lahan yang saat ini pelaku belum bisa ditangkap. Selain itu, terjadi bentrok antara perusahaan dan masyarakat sehingga 1 orang meninggal dan beberapa orang mengalami luka tembak di kawasan perkebunan.
Rangkaian peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan masyarakat mengenai efektivitas penegakan hukum, pengawasan terhadap kepemilikan dan penggunaan senjata api, serta pentingnya transparansi dalam proses penyelidikan. Terlepas dari proses hukum yang masih berjalan, kondisi ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik tidak hanya dibangun melalui kegiatan seremonial atau slogan pelayanan, tetapi juga melalui kemampuan aparat dalam memberikan rasa aman, menegakkan hukum secara adil, serta menyampaikan perkembangan penanganan perkara secara terbuka dan akuntabel.
Filsuf Tiongkok Konfusius pernah menyatakan, "Pemimpin memperoleh kepercayaan bukan karena perkataannya, melainkan karena perbuatannya." Kutipan tersebut mengandung makna bahwa kepercayaan publik tumbuh dari tindakan yang selaras dengan komitmen yang disampaikan kepada masyarakat.
Sementara itu, filsuf Yunani Aristoteles mengatakan, "Martabat tidak terletak pada menerima kehormatan, melainkan pada layak menerimanya." Pandangan tersebut menegaskan bahwa penghargaan masyarakat terhadap suatu institusi lahir dari integritas, keteladanan, dan tanggung jawab yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Momentum Hari Bhayangkara Ke-80 seyogyanya menjadi kesempatan bagi seluruh jajaran kepolisian untuk memperkuat kepercayaan publik melalui pelayanan yang profesional, transparan, berkeadilan, serta penegakan hukum yang memberikan kepastian kepada masyarakat. Di tengah kemeriahan peringatan yang berlangsung di berbagai daerah, polemik penyaluran daging kurban dan perhatian publik terhadap penanganan sejumlah kasus yang menjadi sorotan di Kabupaten Ogan Komering Ilir hendaknya dipandang sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat hubungan antara Polri dan masyarakat.
Kritik yang berkembang merupakan bagian dari kontrol sosial dalam negara demokrasi. Oleh karena itu, kritik tersebut selayaknya dipandang sebagai masukan yang konstruktif untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat profesionalisme, menjaga integritas institusi, serta mewujudkan Polri yang semakin presisi, humanis, dan benar-benar dipercaya oleh masyarakat. [Jul PPWI/Tim Redaksi]
Referensi:
https://harianpewarta.com/2026/05/27/slogan-polri-untuk-masyarakat-sepertinya-hanya-isapan-jempol-belaka-masyarakat-kecewa-daging-kurban-polres-oki-tak-dibagikan-untuk-masyarakat/
https://harianpewarta.com/2026/06/27/dugaan-penembakan-di-areal-perkebunan-oki-satu-warga-tewas-tiga-terluka-publik-pertanyakan-penegakan-hukum-dan-kepemilikan-senjata-api/
https://harianpewarta.com/2026/06/28/breaking-news-calon-ketua-kelompok-tani-merdeka-indonesia-di-air-sugihan-tertembak-saat-hadiri-musyawarah-sengketa-lahan/
