Drone Iran Menyerang Bahrain dan Sebuah Kapal Diserang di Selat Hormuz Setelah Serangan Udara AS ke Iran -->

Drone Iran Menyerang Bahrain dan Sebuah Kapal Diserang di Selat Hormuz Setelah Serangan Udara AS ke Iran

Sabtu, 27 Juni 2026, 19:18



AmbaritaNews.com | DUBAI, Uni Emirat Arab - Iran melancarkan serangan drone yang menargetkan Bahrain, sementara sebuah kapal di Selat Hormuz secara terpisah juga diserang pada Sabtu, yang diduga merupakan respons Teheran atas serangan udara Amerika Serikat pada malam sebelumnya.


Serangan-serangan di kawasan Teluk Persia tersebut menunjukkan bahaya perang Iran yang kembali berpotensi lepas kendali, meskipun Iran dan Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan sementara untuk mencoba menyepakati perjanjian akhir guna mengakhiri konflik.


Amerika Serikat melancarkan serangan udaranya sebagai tanggapan atas serangan drone Iran terhadap sebuah kapal yang mencoba keluar dari Selat Hormuz pada Kamis lalu. Insiden itu melanjutkan rangkaian serangan yang telah mengguncang gencatan senjata yang rapuh dalam perang tersebut.


Sementara itu, sebuah badan maritim multinasional yang diawasi oleh Angkatan Laut AS pada Sabtu mengumumkan perluasan jalur pelayaran di dekat Oman di Selat Hormuz untuk memungkinkan lalu lintas kapal masuk dan keluar, yang kemungkinan menjadi titik ketegangan baru dengan Teheran.


Bahrain Mengecam Serangan Drone Iran


Serangan Iran terhadap Bahrain kemungkinan bukan suatu kebetulan. Kerajaan Bahrain merupakan salah satu pengkritik paling keras terhadap Iran dan menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.


Bahrain juga baru saja menjadi tuan rumah bagi Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam pertemuan para menteri luar negeri Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yang berakhir dengan seruan agar Iran menghentikan serangannya dan membuka Selat Hormuz sepenuhnya.


Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Bahrain mengatakan bahwa "sejumlah drone Iran" telah menargetkan negara tersebut. Serangan itu disebut sebagai "ancaman terang-terangan terhadap keamanan warga negara dan penduduk."


Korps Garda Revolusi Iran sebelumnya pada Sabtu mengeluarkan pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita resmi IRNA, menyebut bahwa mereka telah menargetkan beberapa lokasi "milik tentara teroris AS di kawasan."


Namun, Iran tidak menyebutkan secara rinci wilayah mana saja yang menjadi sasaran.


Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan bahwa militernya telah menyerang lokasi rudal dan drone Iran serta situs radar pantai dalam serangan udara semalam.


Wakil Presiden AS, JD Vance, yang memimpin perundingan Amerika dengan Iran, mengatakan melalui media sosial pada Jumat malam bahwa Iran seharusnya "mengangkat telepon" jika terdapat ketidaksepakatan mengenai perjanjian gencatan senjata.


"Namun, kekerasan akan dibalas dengan kekerasan," kata Vance dikutip apnews.com pada Sabtu, 27 Juni 2026.


Amerika Serikat dan Iran masih merundingkan syarat-syarat kesepakatan, termasuk masalah lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan masa depan persediaan uranium Iran yang diperkaya hingga tingkat tinggi. Berdasarkan kesepakatan sementara, kedua pihak memiliki waktu 60 hari untuk menyelesaikan rincian perjanjian tersebut.


Kapal Diserang Saat Jalur Pelayaran Diperluas


Sementara itu, pusat operasi perdagangan maritim militer Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan bahwa sebuah kapal tanker diserang pada Sabtu di Selat Hormuz. Mereka menyatakan seluruh awak kapal selamat dan tidak ada kerusakan lingkungan yang dilaporkan.


Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, namun kecurigaan langsung mengarah kepada Iran.


Tak lama setelah laporan serangan kapal tersebut, Joint Maritime Information Center yang diawasi Angkatan Laut AS mengumumkan bahwa jalur pelayaran di dekat pantai Oman diperluas untuk memungkinkan lalu lintas kapal masuk dan keluar.


Iran bersikeras bahwa kapal-kapal yang melintas harus mematuhi perintahnya dan memperingatkan akan mulai mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menjadi rute sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia.


Namun, dalam beberapa hari terakhir, semakin banyak kapal yang berusaha keluar dari Teluk Persia, sehingga memicu kemarahan Iran.


Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menulis pada Jumat bahwa:

"Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran, jadi hormatilah aturan yang ada."


Amerika Serikat dan negara-negara Arab di Teluk menolak tuntutan Iran tersebut. Selat Hormuz secara internasional dianggap sebagai jalur perairan internasional, meskipun secara geografis berada di wilayah perairan teritorial Iran dan Oman.


Dalam pengumumannya, Joint Maritime Information Center memperingatkan bahwa ancaman terhadap kapal-kapal di kawasan itu masih "sangat besar".


"Para pelaut diimbau untuk mewaspadai keberadaan ranjau dan mengantisipasi kehadiran angkatan laut selama operasi pembersihan masih berlangsung," demikian pernyataan mereka.  [Diori Parulian Ambarita & Jon Gambrell]


Berita Populer


TerPopuler