Oleh: Drs. Muhammad Bardansyah Ch.Cht
AmbaritaNews.com | Ada sesuatu yang berubah dalam cara kita membaca dunia. Dulu, orang mencari kebenaran.
Sekarang, kita seperti hanya mencari potongan yang bisa membuat kita tersinggung.
Kasus pernyataan Prabowo Subianto tentang rakyat Iran beberapa waktu lalu memperlihatkan dengan telanjang bagaimana kita, sebagai publik, semakin jauh dari kebiasaan memahami.
Yang beredar adalah satu kalimat pendek:
“rakyat Iran keras kepala.”
Cukup. Itu saja sudah cukup untuk memancing kemarahan. Padahal, seperti sering terjadi di negeri ini, masalahnya bukan pada apa yang dikatakan, melainkan pada apa yang kita pilih untuk dengar.
Potongan yang Lebih Nyaring dari Kebenaran
Mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi.
Dalam forum resmi, Presiden Prabowo sedang berbicara tentang dirinya sendiri, tentang kritik bahwa ia dianggap keras kepala. Lalu ia berkata:
“Kalau saya dibilang keras kepala saya harus terima itu… Kadang-kadang keras kepala dalam suatu pekerjaan dibutuhkan, sekarang orang mengatakan rakyat Iran keras kepala, pejuang-pejuang Iran keras kepala, bolak balik diancam mau dihabisin… tapi dia tidak. Saya tidak ikut politik dalam negeri orang lain.”
Ia bahkan menegaskan:
“Bagi sebuah bangsa kadang-kadang keras kepala butuh. Dulu bapak-bapak pendiri bangsa kita keras kepala. Lebih baik mati daripada dijajah kembali.”
Di sini, “keras kepala” bukan ejekan Ia adalah metafora tentang keteguhan, tentang keberanian untuk tidak tunduk.
Namun apa yang sampai ke publik?
Bukan makna. Bukan konteks. Hanya potongan. Dan anehnya, potongan itu terdengar lebih nyaring daripada keseluruhan.
๐๐ข๐ญ๐ ๐๐๐ซ๐ฅ๐๐ฅ๐ฎ ๐๐๐ฉ๐๐ญ, ๐๐๐ซ๐ฅ๐๐ฅ๐ฎ ๐๐๐ค๐ข๐ง
Yang mengkhawatirkan bukan hanya bagaimana informasi disebarkan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana kita menerimanya.
Kita tidak lagi bertanya: “Apa maksudnya?” Kita langsung menyimpulkan: “Ini salah.”
Kita tidak lagi membaca. Kita menilai. Dan lebih parah lagi, kita menilai dengan keyakinan penuh, padahal kita hanya memegang serpihan.
Di titik ini, persoalannya bukan lagi hoaks dalam arti klasik.
Tidak ada kebohongan total di sini.
Yang ada adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya:
kebenaran yang dipreteli hingga kehilangan makna.
๐๐ธ๐ผ๐๐ถ๐๐๐ฒ๐บ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ฎ๐ฟ๐ด๐ฎ๐ถ ๐๐ฒ๐บ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต๐ฎ๐ป
Kita sering menyalahkan media sosial. Sebagian benar. Tapi mari jujur: algoritma hanya memberi kita apa yang kita sukai.
Dan kita, tampaknya, menyukai kemarahan.
Konten yang tenang tidak viral. Penjelasan yang panjang tidak menarik.
Nuansa dianggap membosankan.
Sebaliknya:
• potongan kalimat
• judul provokatif
• tafsir sepihak
itulah yang kita klik, kita bagikan, dan kita percayai.
Maka jangan heran jika ruang publik kita semakin bising, bukan karena banyaknya informasi, tetapi karena sedikitnya pemahaman.
๐๐ฎ๐ค๐๐ง ๐๐๐ซ๐ญ๐๐ฆ๐, ๐๐๐ง ๐๐ข๐๐๐ค ๐๐ค๐๐ง ๐๐๐ซ๐๐ค๐ก๐ข๐ซ
Kasus ini bukan pengecualian. Ini pola. Hari ini Prabowo. Besok orang lain. Lusa mungkin siapa saja.
Selama kita masih nyaman dengan potongan,
selama kita lebih suka bereaksi daripada memahami,
distorsi akan selalu menemukan jalannya.
Dan setiap kali itu terjadi, kita akan mengulang siklus yang sama:
marah, lalu lupa.
๐๐๐ซ๐ญ๐๐ง๐ฒ๐๐๐ง ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐๐ก๐๐ซ๐ฎ๐ฌ๐ง๐ฒ๐ ๐๐ข๐ญ๐ ๐๐๐ง๐ฒ๐๐ค๐๐ง
Mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dan bertanya, bukan pada mereka yang berbicara, tetapi pada diri kita sendiri:
- Mengapa kita begitu mudah tersinggung oleh sesuatu yang belum kita pahami?
- Mengapa satu kalimat cukup untuk mengalahkan keseluruhan konteks?
- Dan yang paling penting: apakah kita benar-benar peduli pada kebenaran?
Atau jangan-jangan, kita hanya mencari alasan untuk merasa benar.
๐๐๐ง๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฉ: ๐๐๐๐๐ง๐๐ซ๐๐ง ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐ข๐๐๐ค ๐๐๐๐๐ซ ๐๐ข๐๐๐ค ๐๐ค๐๐ง ๐๐๐ซ๐ง๐๐ก ๐๐ญ๐ฎ๐ก
Kebenaran itu butuh waktu. Ia tidak bisa dipahami dalam potongan.
Namun kita hidup di zaman yang tidak sabar. Zaman yang menuntut segalanya cepat, termasuk kesimpulan. Dan di situlah masalahnya. Karena ketika kita terburu-buru memahami yang kita dapat bukan kebenaran, melainkan versi yang paling sesuai dengan emosi kita saat itu.
Kasus ini seharusnya menjadi pengingat sederhana: bahwa tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang terdengar itu sesuai dengan maksudnya.
Tapi mungkin, pelajaran yang paling jujur justru ini:
Kita tidak lagi hidup di dunia yang kekurangan informasi. Kita hidup di dunia yang kekurangan kesabaran untuk memahami.
๐๐๐๐๐ซ๐๐ง๐ฌ๐ข
1. Anggrainy, F. C. (2026, April 8). Prabowo: Kalau dibilang keras kepala saya harus terima itu. Detik. https://www.detik.com
2. Antara News. (2026, April 8). Prabowo: Bagi sebuah bangsa terkadang keras kepala dibutuhkan. https://www.antaranews.com
3. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2023). Panduan literasi digital: Memahami hoaks dan disinformasi. Jakarta: Kominfo. [FL/MB]
