๐Š๐ข๐ญ๐š ๐“๐ข๐๐š๐ค ๐‹๐š๐ ๐ข ๐Œ๐ž๐ง๐œ๐š๐ซ๐ข ๐Š๐ž๐›๐ž๐ง๐š๐ซ๐š๐ง—๐Š๐ข๐ญ๐š ๐Œ๐ž๐ง๐œ๐š๐ซ๐ข ๐€๐ฅ๐š๐ฌ๐š๐ง ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐Œ๐š๐ซ๐š๐ก -->

๐Š๐ข๐ญ๐š ๐“๐ข๐๐š๐ค ๐‹๐š๐ ๐ข ๐Œ๐ž๐ง๐œ๐š๐ซ๐ข ๐Š๐ž๐›๐ž๐ง๐š๐ซ๐š๐ง—๐Š๐ข๐ญ๐š ๐Œ๐ž๐ง๐œ๐š๐ซ๐ข ๐€๐ฅ๐š๐ฌ๐š๐ง ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐Œ๐š๐ซ๐š๐ก

Selasa, 14 April 2026, 21:49


Oleh: Drs. Muhammad Bardansyah Ch.Cht


AmbaritaNews.com | Ada sesuatu yang berubah dalam cara kita membaca dunia. Dulu, orang mencari kebenaran.

Sekarang, kita seperti hanya mencari potongan yang bisa membuat kita tersinggung.


Kasus pernyataan Prabowo Subianto tentang rakyat Iran beberapa waktu lalu memperlihatkan dengan telanjang bagaimana kita, sebagai publik, semakin jauh dari kebiasaan memahami.


Yang beredar adalah satu kalimat pendek:

“rakyat Iran keras kepala.”


Cukup. Itu saja sudah cukup untuk memancing kemarahan. Padahal, seperti sering terjadi di negeri ini, masalahnya bukan pada apa yang dikatakan, melainkan pada apa yang kita pilih untuk dengar.


Potongan yang Lebih Nyaring dari Kebenaran

Mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi.


Dalam forum resmi, Presiden Prabowo sedang berbicara tentang dirinya sendiri, tentang kritik bahwa ia dianggap keras kepala. Lalu ia berkata:


“Kalau saya dibilang keras kepala saya harus terima itu… Kadang-kadang keras kepala dalam suatu pekerjaan dibutuhkan, sekarang orang mengatakan rakyat Iran keras kepala, pejuang-pejuang Iran keras kepala, bolak balik diancam mau dihabisin… tapi dia tidak. Saya tidak ikut politik dalam negeri orang lain.”


Ia bahkan menegaskan:

“Bagi sebuah bangsa kadang-kadang keras kepala butuh. Dulu bapak-bapak pendiri bangsa kita keras kepala. Lebih baik mati daripada dijajah kembali.”


Di sini, “keras kepala” bukan ejekan Ia adalah metafora tentang keteguhan, tentang keberanian untuk tidak tunduk.

Namun apa yang sampai ke publik?

Bukan makna. Bukan konteks. Hanya potongan. Dan anehnya, potongan itu terdengar lebih nyaring daripada keseluruhan.


๐Š๐ข๐ญ๐š ๐“๐ž๐ซ๐ฅ๐š๐ฅ๐ฎ ๐‚๐ž๐ฉ๐š๐ญ, ๐“๐ž๐ซ๐ฅ๐š๐ฅ๐ฎ ๐˜๐š๐ค๐ข๐ง


Yang mengkhawatirkan bukan hanya bagaimana informasi disebarkan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana kita menerimanya.

Kita tidak lagi bertanya: “Apa maksudnya?” Kita langsung menyimpulkan: “Ini salah.”

Kita tidak lagi membaca. Kita menilai. Dan lebih parah lagi, kita menilai dengan keyakinan penuh, padahal kita hanya memegang serpihan.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi hoaks dalam arti klasik. 


Tidak ada kebohongan total di sini.

Yang ada adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya:

kebenaran yang dipreteli hingga kehilangan makna.


๐—˜๐—ธ๐—ผ๐˜€๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—บ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ด๐—ฎ๐—ถ ๐—ž๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป


Kita sering menyalahkan media sosial. Sebagian benar. Tapi mari jujur: algoritma hanya memberi kita apa yang kita sukai.

Dan kita, tampaknya, menyukai kemarahan.

Konten yang tenang tidak viral. Penjelasan yang panjang tidak menarik.

Nuansa dianggap membosankan.


Sebaliknya:

potongan kalimat 

judul provokatif 

tafsir sepihak 

itulah yang kita klik, kita bagikan, dan kita percayai.


Maka jangan heran jika ruang publik kita semakin bising, bukan karena banyaknya informasi, tetapi karena sedikitnya pemahaman.


๐๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ฆ๐š, ๐๐š๐ง ๐“๐ข๐๐š๐ค ๐€๐ค๐š๐ง ๐“๐ž๐ซ๐š๐ค๐ก๐ข๐ซ


Kasus ini bukan pengecualian. Ini pola. Hari ini Prabowo. Besok orang lain. Lusa mungkin siapa saja.

Selama kita masih nyaman dengan potongan,

selama kita lebih suka bereaksi daripada memahami,

distorsi akan selalu menemukan jalannya.

Dan setiap kali itu terjadi, kita akan mengulang siklus yang sama:

marah, lalu lupa.


๐๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ง๐ฒ๐š๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐’๐ž๐ก๐š๐ซ๐ฎ๐ฌ๐ง๐ฒ๐š ๐Š๐ข๐ญ๐š ๐“๐š๐ง๐ฒ๐š๐ค๐š๐ง


Mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dan bertanya, bukan pada mereka yang berbicara, tetapi pada diri kita sendiri:

- Mengapa kita begitu mudah tersinggung oleh sesuatu yang belum kita pahami? 

- Mengapa satu kalimat cukup untuk mengalahkan keseluruhan konteks? 

- Dan yang paling penting: apakah kita benar-benar peduli pada kebenaran? 


Atau jangan-jangan, kita hanya mencari alasan untuk merasa benar.


๐๐ž๐ง๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฉ: ๐Š๐ž๐›๐ž๐ง๐š๐ซ๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐“๐ข๐๐š๐ค ๐’๐š๐›๐š๐ซ ๐“๐ข๐๐š๐ค ๐€๐ค๐š๐ง ๐๐ž๐ซ๐ง๐š๐ก ๐”๐ญ๐ฎ๐ก


Kebenaran itu butuh waktu. Ia tidak bisa dipahami dalam potongan.

Namun kita hidup di zaman yang tidak sabar. Zaman yang menuntut segalanya cepat, termasuk kesimpulan. Dan di situlah masalahnya. Karena ketika kita terburu-buru memahami yang kita dapat bukan kebenaran, melainkan versi yang paling sesuai dengan emosi kita saat itu.


Kasus ini seharusnya menjadi pengingat sederhana: bahwa tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang terdengar itu sesuai dengan maksudnya.

Tapi mungkin, pelajaran yang paling jujur justru ini:

Kita tidak lagi hidup di dunia yang kekurangan informasi. Kita hidup di dunia yang kekurangan kesabaran untuk memahami.


๐‘๐ž๐Ÿ๐ž๐ซ๐ž๐ง๐ฌ๐ข

1. Anggrainy, F. C. (2026, April 8). Prabowo: Kalau dibilang keras kepala saya harus terima itu. Detik. https://www.detik.com


2. Antara News. (2026, April 8). Prabowo: Bagi sebuah bangsa terkadang keras kepala dibutuhkan. https://www.antaranews.com


3. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2023). Panduan literasi digital: Memahami hoaks dan disinformasi. Jakarta: Kominfo.  [FL/MB]


Berita Populer


TerPopuler