
Ketua Umum Yayasan Bantuan Hukum Anak dan Perempuan Indonesia (Ketum YBH API), Mastaria Manurung
AmbaritaNews.com | Kota Bekasi - Dalam rangka memperingati Hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April, Ketua Umum Yayasan Bantuan Hukum Anak dan Perempuan Indonesia (YBH API), Mastaria Manurung, menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya peran perempuan dalam membangun keluarga dan masa depan bangsa.
Dalam keterangannya kepada awak media online ambaritanews.com pada Senin (20/4/2026), Mastaria menegaskan bahwa status sebagai ibu rumah tangga tidak boleh menjadi alasan bagi perempuan untuk berhenti berkembang. Ia menilai, perempuan tetap harus memiliki kecerdasan, wawasan, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Walaupun kita hanya seorang ibu rumah tangga, kita harus menjadi wanita yang cerdas. Karena dari seorang ibu yang cerdas akan lahir anak-anak yang cerdas pula,” ujarnya.
Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas diri, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal, menjadi hal yang sangat penting bagi setiap perempuan.
Lebih lanjut, Mastaria juga menekankan bahwa perempuan masa kini harus mampu berkarya dan berkontribusi dalam berbagai bidang, baik di ranah domestik maupun publik.
Ia mendorong agar perempuan tidak ragu untuk mengembangkan potensi diri, termasuk dalam bidang sosial, ekonomi, maupun hukum. Perempuan kelahiran Jakarta 47 tahun lalu ini dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak.
Melalui YBH API, ia aktif memberikan bantuan hukum serta pendampingan kepada korban berbagai bentuk kekerasan, seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan seksual, hingga tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Dalam praktiknya, Mastaria kerap turun langsung mendampingi para korban, memastikan mereka mendapatkan keadilan serta perlindungan hukum yang layak. Ia juga berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat terkait pentingnya kesadaran hukum dan perlindungan terhadap kelompok rentan.
“Perempuan tidak boleh takut untuk bersuara, terutama ketika mengalami ketidakadilan. Kita harus berani melawan segala bentuk kekerasan dan penindasan,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, hingga masyarakat umum, untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman, adil, dan mendukung bagi perempuan dan anak.
Momentum peringatan Hari Kartini, lanjut Mastaria yang berdarah Sumatera Utara, tidak hanya sekadar seremoni tahunan, tetapi harus menjadi refleksi bersama untuk melanjutkan perjuangan emansipasi perempuan. Ia mengingatkan bahwa perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan masih relevan hingga saat ini.
“Semangat Kartini harus terus hidup dalam diri setiap perempuan Indonesia. Kita harus terus belajar, berdaya, dan saling mendukung agar bisa memberikan kontribusi nyata bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa,” tutupnya.
Dengan semangat Hari Kartini, diharapkan perempuan Indonesia semakin percaya diri, mandiri, dan mampu menjadi agen perubahan dalam menciptakan generasi yang unggul serta berdaya saing di masa depan. [Diori Parulian Ambarita]
