Komentar Wilson Lalengke Atas Pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang “Londo Ireng” -->

Komentar Wilson Lalengke Atas Pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang “Londo Ireng”

Selasa, 28 Juli 2026, 02:18

Wilson Lalengke 


AmbaritaNews.com | Jakarta - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis dan LSM sebagai “Londo Ireng” jelas menimbulkan kegelisahan publik. Istilah ini sarat makna historis dan politis. Sayangnya, Prabowo Subianto salah menempatkan frasa ini dengan menempelkannya pada para wartawan dan aktivis LSM.


“Londo” hakekatnya dipahami sebagai penjajah, sementara “ireng” berarti hitam. Jika digabung, “Londo Ireng” merujuk pada kelompok bangsa berkulit ireng yang berperan sebagai penjajah. Sebagaimana pernyataan Bung Karno, “Londo Ireng” adalah kelompok warga pribumi yang ikut berperan menindas bangsanya sendiri melalui kekuasaan negara, bukan mereka yang berperan sebagai jurnalis atau aktivis LSM.


Jadi, sebenarnya pernyataan Presiden Prabowo justru mengarah pada dirinya sendiri. Fakta sederhana dapat dilihat bahwa Presiden Prabowo Subianto (juga presiden sebelumnya) berkantor di bekas kantor Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang merupakan simbol asli penjajah dari kelompok Londo Putih. Jika ada yang pantas disebut Londo Ireng, maka mereka itu adalah kelompok penguasa yang menggunakan kekuasaan untuk menindas rakyatnya sendiri.


Sementara, jurnalis dan LSM berdiri di posisi sebaliknya, Mereka berperan sebagai kontrol sosial, kelompok bangsa yang tanpa pamrih, berdarah-darah memperjuangkan kepentingan rakyat, melawan praktik ketidakadilan yang dilakukan para Londo Ireng yang dikendalikan dari gedung penjajah alias istana presiden. Melabeli wartawan dan LSM sebagai Londo Ireng adalah bentuk pengaburan sejarah sekaligus pelecehan terhadap peran penting masyarakat sipil dalam negara demokrasi.


Soekarno berkali-kali menegaskan bahwa Londo Ireng adalah “kelompok pemerintah yang menjajah dan menindas rakyatnya sendiri.” Pernyataan ini relevan hingga kini, ketika sebagian terbesar penguasa lebih sibuk melanggengkan kekuasaan agar dapat terus memeras keringat rakyat daripada menegakkan keadilan dan menciptakan kejahteraan bagi rakyatnya.


Sebagaimana ditegaskan oleh filsuf Jean-Jacques Rousseau bahwa jika penguasa menindas rakyat, maka ia telah berubah menjadi penjajah. Kritik Immanuel Kant terhadap Prabowo Subianto cukup keras dengan mengatakan bahwa menyebut jurnalis dan LSM sebagai Londo Ireng adalah tindakan yang jauh dari kewajiban moral seorang pemimpin.


Oleh karena itu, jangan salah alamat. Londo Ireng bukanlah jurnalis atau LSM, melainkan penguasa yang mengkhianati rakyatnya sendiri. (*)


Berita Populer


TerPopuler