AmbaritaNews.com | Jakarta - Sebuah kamera saku kecil diam-diam diselundupkan Guruh Soekarnoputra saat menjenguk ayahnya, Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno, di Wisma Yaso, Jakarta.
Dari kamera tersebut lahir dokumentasi yang kemudian menjadi salah satu foto terakhir Bung Karno, hanya 15 hari sebelum sang Proklamator wafat pada 21 Juni 1970.
Peristiwa itu terjadi pada 6 Juni 1970, bertepatan dengan ulang tahun Bung Karno yang ke-69. Saat itu, Bung Karno berada dalam kondisi kesehatan yang sangat lemah setelah kekuasaannya berakhir dan dirinya ditempatkan dalam penahanan rumah di Wisma Yaso.
Kondisi Bung Karno disebut semakin memprihatinkan. Ia menderita sakit ginjal dan berada di bawah pengawasan ketat. Kunjungan keluarga pun dibatasi dengan waktu yang sangat singkat.
Guruh bersama kakaknya, Rachmawati Soekarnoputri, memperoleh izin untuk menjenguk sang ayah selama sekitar 30 menit. Keduanya datang untuk merayakan ulang tahun Bung Karno secara sederhana.
Namun, ketika melihat kondisi ayahnya yang hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur, Guruh terbersit keinginan untuk mengabadikan momen tersebut.
Kamera Disembunyikan di Saku
Penjagaan Polisi Militer di Wisma Yaso ketika itu sangat ketat. Barang bawaan pengunjung diperiksa dan aktivitas memotret dilarang.
Guruh kemudian membawa sebuah kamera saku kecil yang disembunyikan di dalam sakunya.
Ketika petugas keluar dari ruangan, Guruh bergerak cepat. Ia meminta Rachmawati duduk di samping tempat tidur Bung Karno.
Dalam waktu yang sangat terbatas, Guruh hanya sempat menekan tombol kamera dua kali sebelum petugas kembali masuk.
Karena keterbatasan waktu, Guruh bahkan tidak sempat bergantian dengan Rachmawati untuk mengabadikan foto dirinya bersama sang ayah, dilansir dari Sinar Harapan, Teras Depok pada Minggu 27 September 2026.
Foto Kemudian Menyebar ke Dunia Internasional
Guruh berhasil menyelamatkan negatif film tersebut dan mencetaknya secara diam-diam.
Foto itu kemudian dipinjamkan Rachmawati kepada seorang temannya yang bekerja di media massa. Tanpa diduga, foto tersebut kemudian beredar dan diambil oleh kantor berita internasional Associated Press (AP) serta dimuat di surat kabar nasional Sinar Harapan.
Foto tersebut akhirnya menjadi salah satu dokumentasi penting mengenai kondisi Bung Karno pada masa-masa terakhir kehidupannya.
Melalui foto itu, kondisi sang Proklamator yang tengah sakit dan berada dalam penahanan rumah dapat diketahui publik secara lebih luas.
Dipanggil dan Diinterogasi Polisi Militer
Beredarnya foto tersebut kemudian membuat Guruh dan Rachmawati dipanggil ke Markas CPM Guntur untuk menjalani pemeriksaan.
Guruh dicecar mengenai alasan dirinya mengambil foto tanpa izin di tengah penjagaan ketat.
Dalam kisah yang kemudian dikenang dalam memorinya, Guruh menjawab pertanyaan Polisi Militer dengan kalimat tegas:
"Itu kan hak saya, wong saya anaknya."
Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dari dokumentasi sejarah menjelang akhir kehidupan Bung Karno.
Hanya berselang 15 hari setelah foto itu diambil, Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970.
Foto hasil jepretan Guruh Soekarnoputra tersebut hingga kini dikenang sebagai salah satu dokumentasi visual terakhir Bung Karno yang memperlihatkan kondisi sang Proklamator pada masa-masa terakhir kehidupannya. [Diori Parulian Ambarita]
