POSPERA Gelar “Kongko Bareng” di Muaragembong, Serap Aspirasi Petani dan Dorong Solusi Irigasi -->

POSPERA Gelar “Kongko Bareng” di Muaragembong, Serap Aspirasi Petani dan Dorong Solusi Irigasi

Sabtu, 15 Agustus 2026, 21:21



AmbaritaNews.com | Kabupaten Bekasi - Posko Perjuangan Rakyat (POSPERA) menggelar kegiatan “Kongko Bareng” bersama para petani di Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi wadah untuk mendengarkan langsung berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya petani, mulai dari irigasi hingga regenerasi petani.


Ketua POSPERA DPC Kabupaten Bekasi, Sardi Adi Saputra, mengatakan istilah “kongko” merupakan bahasa yang umum digunakan masyarakat Bekasi untuk menggambarkan kegiatan ngobrol atau berdiskusi secara langsung.


Menurut Sardi, kegiatan tersebut sengaja digelar untuk mendengarkan berbagai kesulitan dan kendala yang dialami petani di wilayah Muaragembong.


“Kongko itu bahasa Bekasi, artinya ngobrol terkait kesulitan atau kendala yang dialami petani di Muaragembong,” ujar Sardi.


Pria yang merupakan putra asli Muaragembong dan sempat menempuh pendidikan di Bandung itu menegaskan keinginannya agar masyarakat di tanah kelahirannya tidak terus menghadapi kesulitan dalam menjalankan sektor pertanian, khususnya pertanian padi.


Kegiatan berlangsung di Gang Yayasan AA, Kampung Bulak Sukadana, RT 02/RW 05, Desa Jayasakti, Kecamatan Muaragembong. Para petani tampak antusias menyampaikan aspirasi dan persoalan yang mereka hadapi.


Sementara itu, Ketua POSPERA DPD Provinsi Jawa Barat, H. A. Teddy Risandi, mengatakan kehadiran POSPERA merupakan bagian dari upaya menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.


“Terima kasih, khususnya kepada warga yang ada di Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi. Masalah pertanian, masalah irigasi, masalah nelayan. Kami datang untuk mencoba mendengarkan, dalam arti mungkin kelak kita bisa memperjuangkan apa yang menjadi aspirasi warga,” kata Teddy.


Sardi Adi Saputra (SAS)


Teddy juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian dan perikanan. Menurutnya, Muaragembong memiliki potensi pertanian yang besar sehingga regenerasi petani harus menjadi perhatian.


Ia mendorong adanya sinergi antara masyarakat, pemerintah dan perguruan tinggi, khususnya Institut Pertanian Bogor (IPB), untuk memberikan ruang dan pendampingan kepada anak-anak muda agar tertarik kembali menggeluti pertanian.


“Negara kita negara agraris dan Muaragembong ini potensi pertaniannya sangat tinggi. Anak-anak muda harus dilibatkan dalam pertanian. Kita harus bersinergi dengan IPB supaya teman-teman muda yang ada di Muaragembong mau turun ke sawah, berkebun, dan juga menjadi nelayan,” ujarnya.


Menurut Teddy, keterlibatan perguruan tinggi yang memiliki keahlian di bidang pertanian dapat menjadi salah satu solusi untuk membangun minat generasi muda sekaligus meningkatkan kemampuan petani.


Persoalan air dan irigasi menjadi salah satu keluhan utama petani yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.


Teddy mengatakan air laut yang mengalami rob menyebabkan kondisi air menjadi payau dan berdampak terhadap kegiatan pertanian masyarakat.


“Masalah air atau irigasi di Muaragembong ini banyak gangguan karena rob air laut. Air laut masuk sehingga menjadi payau dan petani akhirnya mengalami kerugian,” katanya.


Atas persoalan tersebut, Teddy mengaku telah berkomunikasi dengan pihak yang memahami persoalan irigasi. Ia berharap segera ada solusi konkret, baik melalui pembangunan saluran irigasi baru maupun penyediaan sumur bor yang dapat dimanfaatkan para petani.


pertama dari kiri: H. A. Teddy Risandi (memakai caping)


“Kami tadi langsung komunikasi dengan kawan yang biasa mengurusi irigasi. Semoga bisa datang ke sini membawa solusi, apakah nanti saluran irigasi baru atau sumur bor yang bisa dipakai para petani,” tuturnya.


Ketika ditanya mengenai isu dirinya bakal maju dalam kontestasi politik Kabupaten Bekasi sebagai calon wakil bupati, Teddy tidak banyak berkomentar.


“Itu kan isu. Kita lihat saja, kita jalan dulu untuk memperjuangkan rakyat,” katanya.


Ia menegaskan, siapapun yang nantinya menjadi pemimpin Kabupaten Bekasi harus memberikan perhatian serius kepada Muaragembong.


“Yang jelas, siapa pun yang menjadi pemimpin di Kabupaten Bekasi harus ke Muaragembong. Saya pikir Bekasi yang sesungguhnya ada di sini, ada di Muaragembong,” tegasnya.


Teddy juga menyinggung besarnya potensi ekonomi Kabupaten Bekasi. Menurutnya, keberadaan kawasan industri besar harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.


“Bekasi ini kabupaten yang makmur. Daerah industri besar-besar ada di Kabupaten Bekasi. Kurang lebih ada empat kawasan industri dan menjadi kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Warganya juga harus menikmati kesejahteraan,” ujarnya.


Ia mengingatkan prinsip keadilan sosial sebagaimana amanat sila kelima Pancasila dan UUD 1945 harus benar-benar dirasakan masyarakat.


Rojali alias Jali


“Kabupaten Bekasi ini harus sejahtera,” tegasnya.


Teddy menyebut kegiatan di Muaragembong merupakan bagian dari roadshow POSPERA untuk menyerap aspirasi masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Bekasi.


Setelah Muaragembong, POSPERA berencana menyambangi sejumlah wilayah lain, termasuk Babelan dan Cikarang.


“Kita ingin mendengar langsung aspirasi warga yang ada di Kabupaten Bekasi. Sebagai kabupaten yang APBD-nya sangat besar, di atas Rp5 triliun, masyarakat harus didengar,” katanya.


Ia menegaskan kegiatan tersebut merupakan roadshow untuk menyerap aspirasi dan tidak boleh disalahartikan sebagai agenda politik praktis.


Salah seorang petani, Rojali alias Jali, menyambut positif kedatangan POSPERA. Ia berharap aspirasi para petani tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat dikawal hingga terealisasi.


“Keinginan saya, aspirasi kami sebagai petani bisa tersalurkan, bisa terinspirasi dan bisa dilaksanakan sesuai dengan keinginan petani di sini, khususnya di Desa Jayasakti, Kecamatan Muaragembong,” ujar Jali.


Ia menyebut sektor pertanian di wilayahnya sebenarnya memiliki potensi cukup besar. Menurutnya, hasil panen dapat mencapai sekitar 7–8 ton per hektare.




Namun, potensi tersebut masih menghadapi berbagai kendala yang membutuhkan perhatian pemerintah dan pihak terkait.


Jali juga menilai respons Teddy terhadap persoalan petani cukup memuaskan dan berharap pengawalan terhadap aspirasi masyarakat dapat dilakukan secara berkelanjutan.


Jali turut menyoroti kondisi generasi muda di Muaragembong. Menurutnya, tidak semua anak muda yang telah menyelesaikan pendidikan SMA mampu melanjutkan kuliah. Karena itu, sektor pertanian dinilai dapat menjadi alternatif lapangan pekerjaan yang menjanjikan.


Ia berharap anak-anak muda tidak hanya bergantung pada pekerjaan di perusahaan atau kawasan industri.


Sebagai ketua kelompok tani, Jali berencana mendorong pembentukan kelompok petani muda atau petani milenial.


“Sebagai ketua kelompok, kami menganjurkan anak-anak muda nanti dibuatkan kelompok petani muda milenial. Saya ingin itu bisa terinspirasi dan tersalurkan,” katanya.


Ia berharap keberadaan kelompok tersebut dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk belajar, berkumpul dan mengembangkan usaha pertanian.


“Harapannya jangan sampai ada pengangguran di daerah kita. Anak-anak muda bisa berkumpul, terinspirasi dengan pertanian. Jangan banyak pengangguran hanya mengandalkan perusahaan atau pekerjaan lain. Kalau pertanian, masa depan dan hasilnya jelas,” pungkasnya.


Kegiatan “Kongko Bareng” POSPERA di Muaragembong tersebut pun menjadi momentum bagi petani untuk menyampaikan persoalan secara langsung, sekaligus membuka ruang kolaborasi untuk mencari solusi terhadap persoalan irigasi, regenerasi petani, lapangan kerja pemuda dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir Kabupaten Bekasi.  [Diori Parulian Ambarita]


Berita Populer


TerPopuler